Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

All About Nanang Masaudi


VISI FUTURISTIK GORONTALO 2020

(Triple Core Issues, Peta Jalan Menuju Gorontalo Maju dan Mandiri)

      Penulis: Nanang Masaudi  

      Bagaimana Gorontalo di tahun 2020? Pertanyaan ini hendak menggugah kesadaran akan harapan dan optimisme tentang mimpi-mimpi masyarakat Gorontalo yang terpendam. Diksi ‘bagaimana’ dapat dimaknai bahwa kita tidak hanya sekedar ingin merangkai mimpi, tapi kita ingin sekaligus berproses menuju perubahan.  Perubahan yang akan menjadi refleksi akumulasi ide, tekad, karsa dan karya yang luhur segenap warga Gorontalo. Tahun 2020 akan menjadi break event point bagi sejarah baru peradaban Gorontalo. Frase tematik yang cukup lugas untuk mengekspresikan wacana ini adalah ‘Gorontalo Maju 2020’. Tema ini memberikan sebuah kerangka berfikir yang futuristik tentang potret Gorontalo di masa yang akan datang. Klimaks pada tahun 2020 akan mendesakkan gerakan deklarasi sebagai bentuk penegasan tentang kebangkitan fase awal yang akan memperjelas arah kemajuan daerah ini. Gorontalo kini adalah sebuah daerah yang sedang melakukan optimalisasi pembangunan di segala sektor untuk menentukan  jati diri sebagai daerah yang kuat, maju dan mandiri. Deskripsi tentang data aktual dan kondisi faktual terkini tentang segala potensi yang dimiliki oleh Gorontalo dapat digunakan sebagai dasar penyusunan road-map untuk memberi arah yang jelas dalam merancang mega visi ‘Gorontalo Maju 2020’. Visi inilah yang akan terus memelihara optimisme kolektif segenap warga Gorontalo dan akan terus mendorong segala potensi kekuatan fikir untuk melahirkan gagasan-gagasan cemerlang tentang blue print atau rancang bangun Gorontalo Maju seperti apa dan bagaimana.

      Sebagai rencana awal momentum, maka perlu ditetapkan fase berdasarkan skala prioritas. Pada fase awal, banyak pihak tentu akan bersepakat bahwa Gorontalo memiliki kebutuhan yang sangat mendesak bagi tersedianya fasilitas-fasilitas publik yang penting. Makanya, pada fase ini perlu dilakukan akselerasi dan update perencanaan kebutuhan infrastruktur vital. Pada fase lanjutannya barulah menentukan skala prioritas dalam bentuk core program di masing-masing bidang alias suprastrukturnya. Secara garis besar, tiga hal yang layak menjadi isu pokok bagi rencana strategi Gorontalo Maju 2020, yaitu peningkatan infrastruktur, penguatan suprastruktur ekonomi, dan reformulasi sistemik di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

      Infrastruktur yang representatif merupakan kebutuhan penting bagi sebuah daerah yang sedang giat membangun. Selain karena dampak ekonomis yang ditimbulkannya, infrastruktur dengan gaya yang khas juga dapat menjadi ‘kemasan’ atau landmark daerah yang memiliki daya tarik tersendiri. Kota-kota besar di negara-negara maju dan berkembang sangat mudah dikenali karena gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti California dengan Golden Gate-nya, Hong Kong dengan kota lautnya, dan Kuala Lumpur dengan Gedung Petronas-nya. Gorontalo dengan segala obsesinya untuk menciptakan nuansa madaniyyah di daerah ini boleh jadi dapat mewujudkan obsesi tersebut dengan mengadaptasi konsep bangunan yang berarsitektur Madinah. Gaya arsitektur dan kualitas bangunan-bangunan yang bergaya futuris yang ada di kawasan Botu juga idealnya dapat dijadikan referensi oleh pengusaha-pengusaha konstruksi lokal dalam merancang konstruksi sebuah bangunan, namun jangan sampai melupakan substansinya. Penataan infrastruktur tetap harus diorientasikan untuk memberikan efek domino bagi dinamika iklim investasi.

      Keluhan para pengusaha lokal maupun luar daerah terkait kondisi Gorontalo dengan segala keterbatasan infrastrukturnya mengisyaratkan adanya kebutuhan mendesak bagi tersedianya sarana dan prasarana yang lebih diarahkan pada pengembangan sektor yang berhubungan langsung dengan kawasan sentra industri dan fasilitas-fasilitas transportasi laut dan udara. Begitu pula dengan pusat-pusat pelayanan publik dan ketersediaan energi listrik yang masih membutuhkan penanganan serius dari pemerintah. Pengembangan infrastruktur yang tepat sasaran merupakan stimulus bagi aktivitas ekonomi di ruang-ruang publik serta akan memacu geliat industri padat karya. Hal ini tentu dapat menumbuhkan daya serap tenaga kerja di daerah. Tumbuhnya produktivitas sektor riil yang memanfaatkan ruang-ruang publik tersebut diharapkan akan menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Sebagai daerah yang sedang berupaya untuk membangun budaya kerja enterpreneurship, maka program peningkatan infrastruktur yang mendukung gerak ekonomi ini sangatlah strategis.

      Dalam rangka penataan infrastruktur, pemerintah juga perlu mengkoordinasikan secara terpadu dengan berbagai pihak tentang konsep penataan wilayah dengan dukungan infrastruktur yang berbasis kearifan lokal. Paradigma pembangunan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai kearifan lokal dengan cara pandang yang lebih modernis diharapkan dapat memberikan kekhasan pada wajah peradaban Gorontalo yang berfilosofi tradisional-ideologis. Paradigma tentang pengembangan infrastruktur melalui penerapan teknologi konstruksi yang futuristik, modern dan filosofis dapat saja diterapkan melalui proyek modernisasi kawasan perdagangan, pengembangan kawasan pelabuhan laut dan udara, dan revitalisasi akses ke objek-objek publik.

      Pada fase lanjutannya, Gorontalo memerlukan kajian strategi untuk menentukan formulasi yang tepat di bidang ekonomi. Kesulitan para pengusaha kecil di Gorontalo untuk mengembangkan usahanya adalah salah satu persoalan ekonomi yang kerap membuat pertumbuhan ekonomi bergerak tidak sehat. Boleh jadi pertumbuhan ekonomi kita berada di atas rata-rata nasional per tahun, namun ketika distribusi pendapatan tidak tersebar secara seimbang, maka hanya akan membuat indikator makro ekonomi itu terkesan utopis. Penguasaan sumber-sumber keuangan oleh segelintir pengusaha kakap rentan menimbulkan resiko kerugian di sektor finansial. Ketika para pengendali modal besar terpuruk pada grafik ekonomi yang terdepresiasi maka akan sangat berdampak sistemik bagi suprastruktur ekonomi lainnya. Ini tidak boleh terjadi! Pengendali kebijakan hendaknya dapat menciptakan iklim berwirausaha yang adil dan berdaya saing, khususnya bagi pengusaha kecil dan menengah. Fungsi intermediasi perbankan harus dimanfaatkan pemerintah daerah untuk menyalurkan pinjaman-pinjaman lunak bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Paket kebijakan ekonomi pemerintah yang diintegrasikan dengan profesionalisme sistem perbankan wajib melahirkan klausul yang tidak menyulitkan pengusaha untuk memanfaatkan dana yang disediakan oleh pemerintah. Di masa yang akan datang, pemerintah juga perlu merealisasikan suprastruktur ekonomi berupa badan usaha layanan perbankan milik daerah berbasis syari’ah dengan melakukan up-grading people serta penyediaan logistik berupa modal awal dan fasilitas pendukungnya. Layanan ini sangat mungkin dapat memberikan ‘kenyamanan’ dalam bisnis mua’amalah bagi segala kalangan, tidak saja nyaman secara syar’i, khususnya bagi kalangan ‘mayoritas’ di daerah ini, tapi juga aman dari dampak fluktuatif dinamika ekonomi global yang kapitalistik. Olehnya itu, lahirnya sebuah Bank Pembangunan Daerah berbasis ekonomi syari’ah kini bukan lagi sebuah keinginan, tapi menjadi sebuah kebutuhan ummat. Dengan modal tekad dan rasa percaya diri yang besar, kita optimis bahwa suprastruktur ekonomi futuristik berupa BPD Syari’ah Gorontalo insya Allah akan segera hadir di Jazirah ini sebelum tahun 2020 dan akan menjadi BPD Syari’ah pertama di Indonesia.

      Jika indikator makro ekonomi menjadi ukuran kesuksesan ekonomi suatu daerah, maka tingkat Human Development Indeks (HDI) yang menyangkut keunggulan SDM adalah indikator yang menjadi parameter inti untuk mengukur kualitas masyarakatnya. Mimpi dan tekad kita semua tentang Gorontalo di tahun 2020 adalah sukses membangun strong human resources yang disegani, artinya tidak ada lagi persoalan krisis sumber daya manusia. Gorontalo harus memiliki banyak pakar dan teknokrat, akademisi handal, birokrat profesional, ekonom berbakat, dan politisi-politisi muda yang cerdas dan bermoral. Dalam rangka peningkatkan mutu sumber daya manusia di Gorontalo, maka reformulasi sistemik pada aspek perencanaan program dan regulasi, skema anggaran, maupun target capaian dalam birokrasi pendidikan kita harus mulai diagendakan. Suasana kebatinan yang sama juga harus dapat melahirkan semangat untuk menyerukan gerakan internasionalisasi sumber daya manusia dengan mendorong percepatan sekolah-sekolah berstandar internasional, menggagas isu madrasah internasional, dan program beasiswa kuliah di luar negeri bagi putera daerah berprestasi.

      Program unggulan pemerintah daerah di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah langkah kebijakan yang sangat tepat, apalagi ditunjang dengan dukungan politik yang kuat serta anggaran pendidikan yang cukup memadai, yakni dua puluh persen dari total anggaran daerah dan nasional. Pendidikan memang patut menjadi kebutuhan vital bagi daerah ini karena merupakan investasi jangka panjang yang sangat menentukan. Sayangnya, bila program ini tidak terkawal dengan baik,  justeru hanya akan menambah panjang daftar persoalan baru bagi dunia pendidikan kita. Persoalan itu berupa potensi kebocoran anggaran yang masih menjadi ancaman, bantuan-bantuan studi dari anggaran daerah yang dinikmati oleh orang-orang yang mampu secara materil, kemudian juga lemahnya identifikasi dan manajemen kebutuhan SDM di daerah menyebabkan postur anggaran pendidikan kita tidak memiliki skema yang terukur dan hanya terkesan seremonial, begitu pula dengan biaya kuliah para pejabat aktif yang dibebankan pada anggaran daerah. Persoalan-persoalan tersebut harus dikaji secara serius dengan mempertimbangkan asas-asas keadilan dan proporsionalitas.

      Secara kelembagaan, struktur ataupun sistem yang selama ini sangat birokratis, harus diubah dengan mindset pengelolaan birokrasi bergaya korporasi profesional yang ditunjang dengan pengawasan dan akuntabilitas kinerja kelembagaan.  Kemudian program kerja pendidikan yang dibuat harus berorientasi manfaat dan dampak. Jika orientasinya keuntungan proyek, maka program yang dijalankan hanya akan memanjakan pelaksana program yang tidak kompeten. Siapa yang bisa memberi ‘kick back money’ dan komisi paling besar pada ‘makelar proyeknya’, maka dialah pelaksana programnya. Akibatnya, dana yang besar menjadi tidak efektif dan efisien. Beragam persoalan inilah yang masih menjadi tantangan serius bagi pengembangan kualitas SDM kita. Olehnya itu, tuntutan untuk menyelenggarakan reformasi birokrasi dalam rangka menciptakan good educational governance tidak bisa ditawar-tawar lagi demi terwujudnya Gorontalo Maju tahun 2020 yang didukung oleh basis SDM yang unggul, bermoral dan profesional.

      Ketiga hal inilah yang kiranya dapat dijadikan fokus perhatian kita. Ketiga fokus tersebut dalam catatan penulis diistilahkan dengan triple core issues, yakni infrastruktur, ekonomi dan pendidikan. Manakala ketiga hal ini dapat disinergikan dengan baik, maka akan saling menunjang satu sama lain. Pada prinsipnya menurut hemat penulis bahwa kerangka kerja sebagai wujud visi Gorontalo Maju 2020 dapat dirumuskan sebagai berikut: Pertama, konseptualisasi terhadap potensi sumber daya berbasis kearifan lokal demi menunjang terwujudnya kemandirian lokal; kedua, akselerasi peningkatan infrastruktur bermutu dan berbasis teknologi futuristik yang mendukung geliat investasi di daerah; ketiga, pemetaan, promosi dan penggarapan peluang-peluang investasi khususnya pada sentra-sentra ekonomi potensial; keempat, penciptaan layanan ekonomi kerakyatan yang dapat memberikan kenyamanan berwirausaha melalui fungsi intermediasi perbankan berbasis syari’ah milik daerah; kelima, pengembangan sumber daya manusia yang diorientasikan untuk kebutuhan lokal sebagai solusi atas kesenjangan SDM di daerah; ke enam, mengokohkan jaringan dan komunikasi antar lembaga dan tokoh-tokoh Gorontalo melalui forum-forum konsultatif; dan akhirnya yang tak kalah pentingnya adalah pemantapan kinerja hukum, legislasi dan pemerintahan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Good Governance dengan memberikan ruang bagi berjalannya proses akuntabilitas publik untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi. Semoga di tahun 2020 kelak tidak ada lagi pejabat Gorontalo yang terlibat korupsi. Say no to corruption, mari berjuang!


Photo AlbumAIRA-kuOct 3, '09 11:00 AM
for everyone


Photo AlbumSketsaApr 27, '09 10:13 AM
for everyone


Photo AlbumBaleehoApr 27, '09 10:04 AM
for everyone


Photo AlbumMerahApr 27, '09 10:00 AM
for everyone


Photo AlbumExecutiveApr 27, '09 9:55 AM
for everyone


Blog EntryApr 4, '09 10:47 PM
for everyone
(Dalam proses perampungan)

VideoDec 13, '08 7:14 AM
for everyone
Pernikahan Nanang - Ella



Download this and other original video files with Multiply Premium.

Photo AlbumGOT MARRIEDDec 8, '08 9:05 AM
for everyone

Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah

Photo AlbumPost-Wedding PhotosDec 1, '08 9:26 AM
for everyone

Pacaran setelah Nikah


Oleh: Nanang Masaudi, S.Pd

      Adakah hubungan antara omzet penjualan sebuah harian surat kabar dengan wanita? Tak ada jawaban yang pasti, jika belum ada penelitian yang benar-benar valid mengenai hal itu. Namun secara sederhana dapat digambarkan bahwa memang wanita seringkali memberi pengaruh signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk dalam dunia bisnis, karena wanita dengan segala kelebihannya mempunyai daya tarik tersendiri yang seharusnya hal ini tidak berarti menjadi alasan untuk mengklaim wanita sebagai makhluk penggoda, akan tetapi sudah menjadi sebuah suratan jika wanita ditakdirkan sebagai perhiasan dunia yang sering membuat orang tergoda olehnya. Duniapun akan tunduk pada mereka kalaupun mereka mau. Kalaupun boleh penulis mengatakan bahwa dengan tujuh orang wanita cantik dan cerdas saja, niscaya tujuh benua dunia ini dengan mudah dapat dimiliki. Lantas apa hubungannya dengan pornografi dan demokrasi? Ikuti terus tulisan ini.
    Sudah menjadi hal yang lumrah apabila selama ini wanita selalu menjadi pemanis dalam hal-hal yang bersifat komersial. Film-film modern akan banyak ditonton bila menampilkan wanita dengan aksi-aksi vulgarnya, majalah dan tabloid akan laris terjual bila menampilkan cover wanita cantik dan sensual, perusahaan atau institusi-institusi bisnis pun terasa kurang lengkap bila tidak menjadikan wanita seksi sebagai maskot perusahaannya, misalnya memajang wanita sebagai recepsionist, waiters, sales promotion girl, teller, dancer dan lain sebagainya. Keuntungan yang didapatkanpun tidak sedikit jumlahnya. Sebagai contoh tentu anda masih ingat dengan salah satu stasiun TV swasta yang meraup keuntungan cukup besar ketika menyuguhkan goyangan ngebor pada acara Duet Maut (sekarang berhenti tayang, karena banyak mendapat kecaman). Media lainpun berbondong-bondong menyuguhkan tayangan-tayangan sejenis karena ratingnya yang kian lama kian meroket..
Ironisnya sebagian kalangan khususnya kalangan masyarakat puritan yang masih memegang kuat adat-adat ketimuran dan norma-norma keagamaan, justeru menjadi penentang terhadap praktek-praktek yang cenderung mengeksploitasi kaum hawa dengan begitu erotis dalam wacana isu-isu pornografi dan pornoaksi. Pun kelompok tertentu yang merasa diuntungkan dengan praktek-praktek tersebut tak ingin kehilangan akal untuk tetap melanggengkan usahanya pula tanpa harus membuat pihak lain merasa dirugikan dengan dalih kebebasan berekspresi, kebebasan pers, hak berpendapat, seni dan keindahan, dan seribu satu dalih lainnya yang penting bisnis dan usaha mereka tetap jalan. Menurut mereka selama masih belum memperlihatkan bagian-bagian yang paling sensitif dari objek karya mereka hal tersebut masih dalam batas-batas kerangka konsep kebebasan berekspresi dalam berbagai konteks.
    Kalangan pembela hak-hak perempuan pun merasa bahwa praktek-praktek eksploitasi terhadap perempuan adalah tindakan yang telah ¡§memperkosa¡¨ (merampas dan menghancurkan) kehormatan hak-hak perempuan yang terkait dengan masalah privacy, aurat, norma ibadah, dan kenyamanan, meskipun terkadang wanita-wanita yang masih memelihara diri pun seringkali mendapat ancaman pelecehan seksual. Jenakanya ada pula sebagian wanita yang begitu permisif menanggapi eksploitasi terhadap tubuhnya hanya karena alasan kemoderenan, tidak ingin dianggap ketinggalan zaman/mode, ¡§ih...norak¡¨, begitu kata mereka, atau (maaf) mungkin pula karena alasan khawatir tidak akan ada kaum adam yang tertarik bila tidak menonjolkan lekuk-lekuk tubuh yang selalu menjadi andalan mereka, ha¡Kha¡Kbiar laris, katanya. Kalangan lelaki hedon pun dengan sangat mudahnya mendapat tontonan syahwat gratis yang banyak bertebaran dimuka bumi ini hingga terkadang selalu berujung pada masalah pelecehan seksual bahkan sampai pada hal-hal yang diinginkan bersama (diinginkan nafsu, bukan nurani).
    Wacana mengenai pornografi terus berkembang hingga pada tataran polemik yang begitu rumit dan semakin tak memiliki kejelasan yang bersifat solutif. Terlepas dari berbagai polemik tersebut ada sebuah ungkapan dari seorang tokoh dunia yang paling berpengaruh hingga abad ini yaitu nabi Muhammad yang pernah mewanti-wanti untuk berwaspada terhadap godaan harta, tahta, dan wanita. Hal ini menjadi sebuah pegangan yang kokoh khususnya bagi kalangan umat Islam yang notabene menjadi kaum mayoritas di negeri ini dan menjadi kaum yang paling getol menyuarakan penentangan terhadap segala hal yang bernuansa erotis yang menyimpang dari bingkai etika dan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Namun, dalam sebuah negara demokrasi yang penuh dengan kemajemukan, pendapat-pendapat lain di luar konteks agama tentunya tidak harus diabaikan sebagai pengejawentahan nilai-nilai yang terkandung dalam paham demokrasi itu sendiri.
Berbagai pendapat dan interpretasi mengenai pornografi yang begitu beragam pun datang dari berbagai pihak dengan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga memunculkan dua versi pendapat dengan argumentasinya masing-masing. Di satu sisi ada kalangan yang mencoba mengangkat berbagai macam slogan seperti kebebasan berekspresi, kebebasan seni, kebebasan berpendapat, trend bisnis dan lain sebagainya dengan label demokrasi. Berbagai argumentasipun meluncur dari lidah mereka yang mengatakan bahwa selama masih dalam batas-batas wajar hal itu sah-sah saja. Paha, perut, belah dada, dan panggul yang didesain dan dipoles sedemikian rupa dengan busana-busana seksi dengan nuansa sensualitas sehingga nampak begitu atraktif adalah bukan merupakan hal yang luar biasa. Wanita yang berpose dengan busana seksi dengan ekspresi wajah seperti orang yang (mohon maaf) ¡¥terangsang¡¦, katanya hal itu adalah bagian dari foto artistik yang merupakan inspirasi seni sebagai wujud kebebasan berekspresi. Begitu pula dengan goyangan ngebor, ngecor, bahkan patah-patah hal itu sah-sah saja selama bagian tervital dari tubuh wanita masih menjadi sebuah privacy dan tidak menjadi konsumsi publik.
    Sementara di sisi lain adapula sebagian kalangan yang berusaha untuk melakukan penentangan tanpa harus menolak paham demokrasi itu sendiri dengan sebuah argumentasi bahwa demokrasi yang terlalu kebablasan justeru semakin menjadi virus yang menggerogoti tatanan hidup bangsa yang telah lama menjadi sendi kehidupan bermasyarakat. Semua hal yang menimbulkan dampak psikologis yang berpengaruh terhadap instinc atau naluri seksual seseorang dianggap tidak pantas bila dipublikasikan bagi kalangan yang tidak terbatas. Daya tarik dari sebuah karya baik itu seni ataupun bisnis dianggap terlalu ekstrim bila menjadikan naluri seksual sebagai target. Paha, belah dada, perut, panggul dan tonjolan-tonjolan dari balik busana lainnya walaupun bukan merupakan organ seksual, akan tetapi bagian-bagian tubuh tersebut dianggap memiliki nuansa erotik yang justeru sering menggiring imajinasi seseorang pada hal-hal yang kurang wajar, sehingga menimbulkan dampak psikologis yang begitu fatal bahkan sampai menimbulkan dampak sosial yang kurang menguntungkan, pelecehan seksual misalnya. Bagi orang yang masih memiliki pengetahuan tentang etika, norma dan kaidah agama mungkin masih bisa mengendalikan diri (itupun kalau dia peduli dengan nilai-nilai tersebut, kalau tidak?), tapi bagi orang yang tidak terdidik bahkan tidak ber-adab mungkin saja fantasi naluri seksualnya akan melayang jauh tak tentu arah hingga tak terkendali (manusia normal mana sih yang gak kepengen, makanya kalau memang bisa dicegah dari si aktornya, why not?).
    Berdasarkan pada argumentasi-argumentasi tersebut berbagai program pun semakin digalakkan oleh kalangan ini, seperti gerakan pemeberantasan pornografi dan pornoaksi, aksi-aksi simpatik kaum perempuan, dialog dan seminar ilmiah yang kesemuanya bermuara pada penolakan terhadap pornografi dan pornoaksi itu sendiri. Tidak hanya itu saja, kelompok inipun begitu gencar untuk mencari solusi terbaik untuk dapat menekan tingginya peningkatan praktek pornografi ini dengan berupaya membuat perangkat hukum yang lebih tegas dan akseptabel. Demikian peliknya persoalan ini hingga berbagai opini dan interpretasi yang beragam tersebut semakin terkonsentrasi menjadi dua pendapat yang kontradiktif, yaitu yang menerima dengan dalih kebebasan berekspresi berlabelkan demokrasi dan yang menolak dengan dalih etika, kaidah budaya, dan agama.
    Definisi mengenai demokrasi yang selama ini sering dimaknai sebagai sebuah pandangan hidup yang selalu mengedepankan kebebasan dalam segala aspek kehidupan, tidak jarang dikunyah mentah-mentah oleh para penganutnya. Batasan mengenai demokrasipun kini menjadi semakin kabur, sehingga semakin menerobos pandangan hidup yang sejak lama dianut oleh masyarakat. Pemahaman mengenai demokrasi selama ini memunculkan berbagai adagium-adagium, slogan-slogan, bahkan pendapat-pendapat yang semakin membuat masyarakat bingung. Tak pelak hal ini menjadi dalih yang cukup ampuh untuk mengakomodir segala macam bentuk karya-karya manusia dalam segala aspek kehidupan tanpa tedeng aling-aling atau hantam kromo. Tak salah memang bila istilah ini disebut dengan demokrasi yang kebablasan.
    Batasan mengenai sejauh mana kita harus menjudge bahwa sebuah karya telah memenuhi unsur pornografi yang diindikasikan dengan nuansa-nuansa erotis yang dimilikinya hanya sampai pada tahap perdebatan saja. Nilai kebenaranpun kini semakin menjadi distorsi dalam polemik-polemik yang semakin ruwet saja. Solusipun kini menjadi sebuah hal yang utopis, dan itulah yang seringkali terjadi bila telah memasuki wilayah paham demokrasi yang diagung-agungkan oleh dunia barat, seolah orang timur tidak punya paham lagi untuk dijadikan pedoman hidupnya. Padahal negeri ini begitu kaya dengan budaya dan peradaban yang justeru terlanjur dianggap kuno oleh generasi muda kita. Semoga suatu saat nanti kita dapat terlepas dari penjajahan budaya ini.
    Perdebatan yang hanya terus berkutat pada persoalan-persoalan definisi dan batasan-batasan terminologi tentulah tak akan mencapai titik temu bila mengabaikan unsur-unsur lainnya yang tidak kalah pentingnya. Olehnya itu sebagai penutup tulisan ini penulis hanya akan meberikan semacam sebuah landasan berpikir yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk ditafakkuri dan ditadabburi, yakni:
1. Kepolosan hati nurani tak akan pernah berbohong untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Bila memang benak kita merespon sebuah objek erotis, maka nurani pun akan merasakan pesan-pesan yang disampaikan oleh syaraf-syaraf adrenalin itu dan akan mengatakan bahwa itu berbahaya.
2. Nilai kepuasan dari sebuah karya tidak sepantasnya hanya mengejar angka-angka yang tinggi semata, tapi yang terpenting adalah kepuasan bathin yang diperoleh sebagai indikator utama dari achievement oriented (orientasi dari sebuah prestasi).
3. Kesadaran dan kebanggaan yang tulus terhadap budaya bangsa menjadi modal utama untuk menjadi warga bangsa yang beradab dan bekepribadian. Olehnya, tak perlulah kita terlalu rakus mengadopsi berbagai isme dan budaya yang begitu deras masuk ke negeri ini.
4. Polemik menganai pornografi merupakan sebuah fenomena sosial yang semestinya harus disikapi dengan cara yang cerdas dan arif dengan tidak secara ¡§sengaja mencari-cari¡¨ dan tidak secara ¡§sembarangan¡¨ mencaplok wilayah disiplin pemahaman keilmuan lain untuk melegitimasi hal tersebut. Pornogarafi seharusnya harus dipandang secara lebih realistis dan terarah dengan benar, karena hal ini telah menyangkut persoalan-persoalan yang sangat prinsipil, khususnya terkait dengan masalah eksistensi, kehormatan, peradaban, bahkan aqidah.
5. Demokrasi seharusnya mampu membawa manusia ke alam yang penuh dengan kebebasan berpikir tanpa harus mematikan suara-suara hati nurani, bukan malah mengedepankan hasrat untuk mengejar kesenangan dan kepuasan belaka, namun perlu juga memperhatikan unsur-unsur nilai, kaidah, falasafah dan norma yang melekat pada setiap aspek dan sisi kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Gorontalo khususnya.
6. Akhirnya agama akan menjadi pelarian yang paling ampuh bila kita memang merasa akan tersesat pada sebuah jalan yang penuh dengan liku.


Blog EntryAug 14, '08 10:53 PM
for everyone
MUQODDIMAH

    Segala puji bagi Allah SWT atas segala curahan Rahmat dan Taufiq-Nya yang tiada henti tercurah. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada teladan kita Nabiyyullah Muhammad SAW. Atas takdir Allah jualah penulisan biodata singkat ini dilakukan sebagai bagian dari amal ta'arruf di antara sesama insan ciptaan-Nya. Manusia diciptakan Allah berbeda-beda bukan untuk saling merendahkan satu sama lain. Akan tetapi salah satu hikmah dari perbedaan itu antara lain adalah agar manusia dapat saling kenal-mengenal sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya. Semoga dengan sepenggal identitas diri saya ini akan membawa sebuah pencerahan pemahaman akan sosok jati diri seorang anak manusia yang bukan siapa-siapa, tapi insya Allah siap berbuat yang terbaik untuk siapapun. Allah menyukai hamba-Nya yang saling mengenal dan saling mencintai karena-Nya.
    Saya, Nanang Masaudi terlahir sebagai anak tertua dari sebuah keluarga yang penuh dengan kesederhanaan tepat pada tanggal 15 Oktober 1980 menjelang Subuh. Sosok sang Ayah (Thamrin Masaudi-Alm) begitu melekat dalam benak saya sebagai teladan yang penuh ketegasan dan kerja keras. Namun, kebersamaan bersamanya hanya berlangsung selama 15 tahun. Dengan menyandang status sebagai anak yatim dengan keempat saudara lainnya berbagai tantangan dan rintangan hidup kami jalani bersama seorang Ibu perkasa bermodalkan sedikit usaha untuk menyambung hidup. Ibu (Asma Ahmad), seolah menjadi salah satu idola saya dalam hidup dan menjadi sumber inspirasi dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan tertatih-tatih saya berusaha menggapai segala harapan yang terasa begitu berat untuk dicapai. Namun Allah pula yang telah berkehendak hingga Saya dan beberapa saudara lainnya dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.

CURRICULUM VITAE







A Identitas




1 Nama : Nanang Masaudi, S.Pd
2 Tempat & Tanggal Lahir : Gorontalo, 15 Oktober 1980
3 Alamat : Jl. Arif Rahman Hakim No.31 Kota Gorontalo

4 Jenis Kelamin  : Laki-Laki

5 Agama : Islam

6 Status : Belum Menikah

7 Pekerjaan  : Pengajar 

8 Pendidikan Terakhir : S 1  Pendidikan Bahasa Inggris

11 Tinggi Badan : 164 CM

12 Berat Badan :  60  KG

13 Blog Website : www.nanangmasaudi.multiply.com

14 e-mail : nanang_masaudi@yahoo.com

15 Mobile Phone : 081340578900








B Riwayat Pendidikan




No Pendidikan Jenis Pendidikan Pelaksana Tempat Tahun
1 Sekolah Dasar Formal Depdikbud Gorontalo 1986-1993
2 Madrasah Ibtida'iyyah Formal Yayasan Al-khairaat Gorontalo 1994-1995
3 Pondok Pesantren Non-Formal Yayasan Al-khairaat Gorontalo 1993-1995
4 Madrasah Tsanawiyyah Formal Departemen Agama Gorontalo 1993-1996
5 Sekolah Menengah Ekonomi Atas Formal Depdiknas Gorontalo 1996-1997
6 Madrasah 'Aliyyah Formal Departemen Agama Gorontalo 1998-2000
7 Perguruan Tinggi Formal UNG Gorontalo 2000-2006
8 Latihan Dasar Kepemimpinan Formal Departemen Agama Manado 1998
9 Seminar Demokrasi & ABRI Non-Formal FIS-STKIP Gorontalo 1998
10 Seminar Nasional Entrepreneurship Non-Formal HPMIG Jakarta Gorontalo 1999
11 Training Orientasi Organisasi Non-Formal FKMM Gorontalo Gorontalo 2000
12 Pelatihan Kependudukan Non-Formal UNDP Gorontalo 2001
13 Daurah Marhalah I Non-Formal KAMMI UNG Gorontalo 2002
14 Seminar Nasional Sastra Indonesia Non-Formal HISKI Gorontalo 2002
15 Seminar AFTA Non-Formal FIS-IKIP Gorontalo 2003
16 Daurah Marhalah II Non-Formal KAMMI Gorontalo Gorontalo 2005
17 Pelatihan Nasional Kepemudaan Non-Formal Kementerian Pora RI Makasar 2005
18 Kursus Komputer Non-Formal UNICEP Gorontalo 2006
19 TOEFL Test and Training Non-Formal Pusat Bahasa UNG Gorontalo 2006
20 Training Kristologi Non-Formal FAKTA Gorontalo 2006
21 Workshop Pembuatan Film Non-Formal Smooth Creative Gorontalo 2006
22 Pelatihan Khotib & Muballigh Non-Formal Yayayasan Al-Ishlah Gorontalo 2007
23 Seminar Internasional "The Challenges of Education Field in Globalization Era" Non-Formal IAIN Sultan Amai, TP-SDM, DIKNAS Provinsi Gorontalo 2008






C Riwayat Organisasi
 

No Nama Organisasi Kedudukan  Periode
1 Persatuan Pelajar Islam Al-Khairaat (PPIA) Anggota 1994-1995
2 OSIS MAN Gorontalo Ketua Umum 1998-1999
3 Forum Komunikasi Mahasiswa Muslim (FKMM) Cabang Gorontalo Anggota 2000-2002
4 Forum Remaja Kreatif (FORTIF) Insan Madani Gorontalo Ketua Umum 2000-2003
5 Bengkel Seni IKIP Negeri Gorontalo Anggota 2001-2003
6 Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris IKIP Negeri Gorontalo Ketua Bidang 2002-2003
7 Senat Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Negeri Gorontalo Ketua Bidang 2003-2004
8 Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo Ketua Bidang 2005-2006
9 Badan Keswadayaan Masyarakat Anggota 2005-2007
10 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Gorontalo Ketua Bidang 2005-2007
11 Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) "SOMBARI"  Ketua  2007-Skrg







D Riwayat Pekerjaan




No Pekerjaan Institusi Tanggung Jawab Tahun
1 Asisten Kelas  Univ. Negeri Gorontalo Pelaksanaan Mata Kuliah IIC 2006-2007
2 Staf Litbang Laboratorium Bahasa Univ. Negeri Gorontalo Pengembangan Bahasa Kursus 2006-2007
3 Wartawan Buletin Madani Reportase 2005-2006
4 Jurnalis Mimoza Channel TV News Anchor 2008
5
Instruktur Study Center of Art Pengajaran Bahasa Inggris 2007- skrg







E Aktivitas Sosial, Politik, Akademik & Organisasi


No Kegiatan Pelaksana Tahun
1 Panelis Pada Acara Diskusi Tentang Nasionalisme DPD HTI Gorontalo 2006
2 Anggota Penjaskes Fitness Center Fakultas Penjas - UNG 2006
3 Relawan Aksi Peduli Korban Gempa Jogjakarta KAMMI Daerah Gorontalo 2006
4 Enumerator Survey Pemilihan Gubernur Gorontalo KAMMI Daerah Gorontalo 2006
5 Juri Lomba Pemilihan Da'i Cilik se-Kota Gorontalo Ta'mirul Mesjid Marhamah  2006
6 Komite Pemekaran Kelurahan Dulalowo Timur Komite Pemekaran Kelurahan 2006
7 Asisten Dewan Hakim MTQ Tingkat Provinsi Gorontalo Pemerintah Provinsi Gorontalo 2006
8 Master of Training Daurah Marhalah I KAMMI Komisariat Gorontalo KAMMI Komsat UNG 2006
9 Trainer pada Latihan Dasar Kepemimpinan di MA Alkhairaat PPIA Al-Khairaat Boalemo 2006
10 Sari Tilawah STQ Nasional di Provinsi Gorontalo Pemerintah Provinsi Gorontalo 2006
11 Anggota Presidium Sidang MUSDA II KNPI Provinsi Gorontalo KNPI Provinsi Gorontalo 2005
12 Peserta pada Konsultasi Publik dengan Anggota DPD-RI SOFFEI Gorontalo 2005
13 Peserta Diskusi Panel tentang Narkotika BNP Gorontalo 2005
14 Debater pada Acara Debat Organisasi antara KAMMI versus HMI KAMMI & HMI Gorontalo 2005
15 Juri pada Festival Nasyid se-Provinsi Gorontalo HKS Gorontalo 2005
16 Relawan pada Aksi Peduli Korban Tsunami Aceh KAMMI Daerah Gorontalo 2005
17 Kontestan Debat Kandidat Ketua BEM Universitas Negeri Gorontalo Civica Radio 2005
18 Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UNG  BEM UNG 2005
19 Ketua Panitia Pembinaan Kerohanian Mahsiswa Baru UNG BEM UNG 2005
20 Panitia Pengarah Lintas BEM Regional Se-Sulawesi  BEM UNG 2005
21 Panitia Pelaksana Bhakti Sosial & Dialog Kerakyatan di Gentuma BEM UNG 2005
22 Presenter Radio Pada Program Spesial Ramadhan di M-Radio  M-Radio & Al-Islah 2005
23 Narasumber pada Dialog Interaktif Remaja Islam di Radio SKFM SKFM & Al-Ishlah 2005
24 Asisten Mata Kuliah Agama Islam Universitas Neg. Gorontalo LAAI UNG 2005
25 Instruktur pada Pelatihan Remaja Mesjid se-Kota Gorontalo Yayasan Al-Islah 2005
26 Master of Ceremony Cabang Tilawah di STQ Nasional ke VIII Pemprov. Gorontalo 2005
27 Panitia Penyelenggara English Contest se-Provinsi Gorontalo HMJ Bahasa Inggris UNG 2004
28 Ketua Komite Penyelenggara Pemungutan Suara PEMILU 2004 KPU 2004
29 Ketua Komite Penyelenggara Pemungutan Suara PILPRES 2004 KPU 2004
30 Radaktur Buletin Ulul Albab KAMMI Komsat UNG 2004
31 Asisten Dewan Hakim MTQ Regional Se-Sulawesi Pemprov. Gorontalo 2004
32 Peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an  Universitas Padjadjaran - Bandung  2003
33 Peserta Studi Kerja Mahasiswa Di Kecamatan Tilamuta HMJ Bahasa Inggris UNG 2000
34 Panitia Bhakti Sosial di Desa Tulabolo Kecamatan Suwawa HMJ Bahasa Inggris UNG 2000
35 Kontestan Debat Siswa dalam Lomba Bina Kreativitas Siswa DEPDIKBUD Kota Gorontalo 2000
36 Ketua Panitia Pelaksana HUT RI ke-55 di Kelurahan Dulalowo Fortif Insan Madani Gorontalo 2000
37 Pembicara pada Seminar Sastra di MAN Gorontalo OSIS MAN Gorontalo 1999
38 Penceramah Tamu pada Kuliah Subuh Muhammadiyyah Kota Gtlo PC. Muhammadiyyah Kota Gorontalo 1999
39 Pembanding pada Debat Kandidat Ketua BEM UNG Periode 2007-2008 KPL Ketua BEM UNG  2007
40 Juri Debat Mahasiswa BEM UNG 2007
41 Pemateri di Berbagai Diskusi dan Pelatihan Pelajar dan Mahasiswa KAMMI,SKI,HTI,ROHIS Dll. 2000-skrg







F Apresiasi Akademik & Non-Akademik




No Apresiasi Skala Tahun
1 Juara I Nasional Musabaqoh Syarhil Qur'an antar Mahasiswa Nasional 2001
2 Siswa Teladan M.Ts Al-Khairaat Kota Gorontalo Sekolah 1994
3 Mahasiswa Teladan Universitas Negeri Gorontalo Universitas 2004
4 Juara I Lomba Pidato Porseni Madrasah Tsanawiyah se-Sulawesi Utara Provinsi 1995
5 Juara I Lomba Pidato tingkat SLTA se-Kota Gorontalo Kota 1996
6 Juara I Lomba Puisi antar Mahasiswa di IKIP Negeri Gorontalo Institut 2001
7 Juara I Lomba Penyuluhan Pertasi Kencana se-Kota Gorontalo Kota 2001
8 Terbaik I Pemilihan Putera Kampus Muslim Universitas Negeri Gorontalo Universitas 2003
9 Terbaik I MC Putera se-Provinsi Gorontalo Provinsi 2005
10 Juara I Penulisan Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an  Institut 2005
11 Juara II Lomba Penyuluhan Pertasi Kencana se-Provinsi Gorontalo Provinsi 2001
12 Juara II Lomba Baca Puisi Berkelompok tingkat SLTP se-Kota Gorontalo Kota 2000
13 Juara II Musabaqah Syarhil Qur'an se-Provinsi Gorontalo Provinsi 2003
14 Juara IV Lomba Ceramah Via Kaset Nasional 2002







G Beasiswa
No Nama Beasiswa Sponsor Tahun
1 Beasiswa MTQ MENDIKNAS RI 2001-2003
2 Beasiswa PPA UNG 2003
3 Beasiswa Pos Indonesia PT. Pos Indonesia 1999
4 Beasiswa Siswa Berprestasi Yayasan Al-Kahairaat 1994







H Karya Tulis
No Judul Bentuk Tulisan Media Publikasi Tahun
1 Disfungsi Psikhis Elit dalam Hiruk Pikuk Pilkada Artikel Gorontalo Post 2008
2 Partai Syari'ah dan Politisi Kapitalis-Pornois Artikel Gorontalo Post 2008
2 DM 1 A  Artikel Gorontalo Post 2007
3 Invasi Pemikiran  Artikel Gorontalo Post 2007
4 Urgensi Perda Larangan Merokok  Artikel Gorontalo Post 2007
5 Mutiara Syurga Puisi Buletin Ulul Albab 2006
6 Karena Kau Begitu Jauh Puisi Geocities 2006
7 Cohesive Analysis on Surah Al-Baqåråh in the Holly Qur'an Skripsi Perpustakaan UNG 2006
8 Al-Qur'an Menyorot Sistem Pendidikan Indonesia Karya Ilmiah MTQ Unpad 2003
9 Resurgensi Paradigma Pendidikan Melalui Pola Pemondokan  Karya Ilmiah Mawapres UNG 2004
10 Hikmah di Balik Musibah Kajian Buletin Ulul Albab 2006
11 Nelson Pomalingo, Antara Obsesi Karir dan Ambisi Politik Artikel Gorontalo Post 2006
12 Tunjangan Perumahan Bandit Berdasi Artikel Koran Gorontalo 2005
13 Pornografi dalam Wacana Demokrasi yang Kebablasan Artikel Gorontalo Post 2005
14 Tumbilotohe dalam Kerangka Konsep Kebudayaan Artikel Gorontalo Post 2000


IKHTITAM

    Sebagai seorang manusia yang sadar akan kelemahan diri ini saya ingin menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya bila ada hal yang kurang berkenan tentang apapun yang menjadi kekurangan saya. Tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Biarlah apa yang menjadi aib diri ini hanya menjadi rahasia antara saya dengan Allah. Bagaimanapun juga saya tidak akan lupa untuk menyampaikan ungkapan terima kasih yang tulus atas diterimanya saya sebagai siapapun. Sungguh betapa karunia Allah begitu besar bagi hamba-Nya yang mengetahui.


Photo AlbumRenyah SMILEJul 6, '08 8:11 AM
for everyone


Blog EntryJun 12, '08 9:28 PM
for everyone

Oleh: Nanang Masaudi

Sejak kaum imperialis meninggalkan Indonesia sebagai wilayah koloninya tentu tidak dengan secara serta merta meninggalkan segala bentuk penjajahan mereka terhadap bangsa ini yang secara kuantitas berpenduduk mayoritas muslim, bahkan merupakan satu-satunya negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Memang secara fisik penjajahan telah berakhir, namun penjajahan dari segi pemikiran dan budaya masih tetap terus menggerogoti anak negeri ini tanpa kita sadari sedikitpun. Senjata ampuh yang mereka gunakan adalah berupa sistem dan pemikiran yang telah mereka sebarkan melalui berbagai cara. Sistem dan pemikiran yang mereka tinggalkan itu masih sangat kokoh mencengkram umat Islam di negeri ini. Dari segi hukum, produk-produk hukum kaum kafir itu dipakai sejak zaman penjajahan fisik hingga saat ini untuk menghukumi umat Islam. Bahkan saat ini tidak jarang kita saksikan hukum menjadi sebuah komoditas yang dapat diperjualbelikan di hampir semua lini lembaga hukum di negeri ini.  Dari segi ekonomi, sistem kapitalisme yang diagung-agungkan oleh dunia barat merebak ke seantero penjuru tanah air, sehingga yang terjadi adalah umat Islam semakin akrab dengan praktek riba, ketidakadilan ekonomi, yang kaya (kaum kapitalis) semakin rakus dengan kekayaannya, yang miskin (kaum proletar) semakin termarjinalkan dalam kemelaratannya, dan yang lebih parah lagi adalah zakat tidak lagi dijalankan dengan benar, uang hasil korupsi dipakai untuk menyumbang ke panti-panti asuhan dan yayasan, membangun mesjid, bahkan sampai digunakan sebagai ongkos untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan secara finansial bangsa ini sedang terjajah sedemikian parahnya. Skandal blok Cepu dan pertambangan Freeport yang dikuasai oleh Amerika hingga berpuluh-puluh tahun lamanya telah mencoreng kehormatan ekonomi bangsa ini. Dengan pengaruhnya Amerika berhasil menekan pemerintah Indonesia untuk kembali memperpanjang kontrak selama 30 tahun pada proyek eksplorasi minyak mentah di Cepu yang diperkirakan memiliki cadangan minyak hingga 2 milyar barel. Sungguh jumlah yang cukup fantastis untuk membangun 1000 buah Monas di seluruh Indonesia. Begitupun dengan potensi emas yang terkandung di bumi Papua yang ditengarai ternyata tidak lebih dari 3 persen saja yang di kembalikan ke Indonesia dalam bentuk pajak sebesar kurang lebih 2 trilyun rupiah per tahun. Dari segi politik, masih banyak umat Islam yang terjebak dengan mitos sakralisme tolol tentang politik yang menyatakan bahwa urusan politik tidak boleh dicampuri oleh urusan agama. Merupakan hal yang tabu bila seorang ulama berpolitik. Padahal justeru agamalah yang harus memberikan warna bagi seluruh aspek kehidupan umat manusia, karena naluri manusia pasti akan selalu mencari siapa Tuhannya. Namun terkadang naluri ini tidak berkembang, sehingga memunculkan manusia-manusia yang atheis (tak mangakui adanya Tuhan). Kalaupun naluri ini berkembang secara tidak benar, maka akan memunculkan manusia-manusia yang politeis (menyembah matahari, batu, pohon, bahkan sampai menyembah jabatan, harta benda dan wanita). Ada sebuah apologi yang dikembangkan oleh kaum imperialis untuk membodohi umat Islam di jaman penjajahan dulu yang mengatakan bahwa para kyai, ustadz, dan ulama sebaiknya hanya mengurusi pesantren, majelis ta’lim, pengajian, dan mengurusi jenazah saja. Urusan politik serahkan saja kepada ahlinya yaitu kaum penjajah. Akhirnya pemikiran itu berkembang terus hingga kini, yang menjadikan potensi umat Islam hanya berkembang di seputaran pengurusan jenazah hingga ke taman pengajian. Padahal sepatutnya potensi spiritual yang dimiliki oleh seorang muslim harusnya dapat menjadi rahmat (memberi manfaat) bagi lingkungannya baik dengan menjadi kepala keluarga di tengah keluarganya maupun menjadi pemimpin pada ruang lingkup yang lebih kompleks lagi hingga dapat menebarkan rahmat tersebut kepada seluruh alam dengan menjadi penguasa di alam ini, apakah itu dengan menjadi kepala desa, gubernur, menteri bahkan kepala negara sekalipun. Dengan kata lain sesungguhnya yang wajib menjadi pemimpin itu adalah orang yang lebih memahami konsep dan cita-cita Islam yaitu memimpin untuk melayani serta menebarkan nilai-nilai humanisme dengan tanpa mengesampingkan kemampuan teknis (skillful) dan kecakapan fikriyyah-nya (intelectual capability) serta kecerdasan emosinya (emotional quotient). Patutlah kiranya bila kita jadikan sosok Muhammad Bin Abdullah sebagai rujukan utama sebagai patron hidup kita. Beliau selain sebagai kepala keluarga, juga sebagai pemimpin agama, pemimpin politik, panglima militer, pengusaha, hakim dan juga sebagai seorang kepala negara.

Setelah dari sisi politik, ekonomi dan hukum terporak-porandakan oleh kelicikan akan konspirasi dunia barat untuk menghancurkan umat Islam, maka sempurnalah sudah keterpurukan itu oleh hancurnya pula budaya dan sistem pendidikan Islam. Kedua aspek ini menjadi bagian terparah yang menjadi target dari upaya invasi pemikiran dunia barat terhadap umat Islam. Umat bangsa ini seolah sedang terhipnotis oleh buah pikiran dan budaya kaum sekuleris dari dunia barat. Dari aspek budaya, mereka menguasai hampir seluruh sarana teknologi informasi yang menjadi media utama untuk mengkampanyekan budaya jorok ala barat. Mulai dari pakaian pengumbar aurat yang disebarkan dengan menggunakan icon sex mereka dari Madonna hingga Paris Hilton, budaya cipika cipiki, dugem, McDonald, Kentucky, free sex/ kumpul kebo, streaptease, gambling, pesta narkoba dan masih banyak lagi. Ironisnya justru Indonesia malah tampil lebih nekat dari kiblat budayanya. Salah satu contohnya yaitu sinetron Indonesia yang menayangkan kisah asmara anak-anak yang masih seumur jagung. Itu baru satu contoh, belum lagi skandal video porno salah seorang anggota DPR, skandal perselingkuhan para pejabat yang seolah telah menjadi pelengkap perilaku korupsi mereka dan puncaknya ketika hampir seluruh elemen bangsa ini menolak penerapan RUU Anti Pornografi. Yah, itulah Indonesia, cape deh ngomongin persoalan negeri ini.

Tibalah saatnya kita untuk menelaah perangkat utama yang menjadi sarana perang pemikiran dunia barat terhadap umat Islam, yaitu pendidikan. Sejak di tinggalkan oleh penjajah, bangsa Indonesia seolah kehilangan pijakannya dalam menjalankan sistem pemerintahannya termasuk sistem pendidikannya. Di tengah kebingungan itu akhirnya para founding fathers negeri ini memutuskan untuk mengadopsi mentah-mentah seluruh sistem yang diwariskan oleh penjajah dengan sedikit saja menambah, mengurangi dan mengganti ini dan itu, kemudian membuat dasar negara yang secara formal simbolistik menjadi pedoman hidup agar negeri yang pada jaman dahulu nyaris tak bertuan ini nampak jelas identitasnya sebagai bangsa. Aksi plagiasi secara frontal itu di awali dari sistem politiknya, sistem hukumnya, sistem ekonominya, bahkan yang lebih parah lagi adalah dimarjinalkannya sistem pendidikan yang dijalankan di pondok-pondok pesantren yang telah lebih dulu semarak di negeri ini. Sistem pendidikan nasional yang selama berpuluh-puluh tahun lamanya digelontor dengan porsi anggaran yang cukup besar oleh pemerintah justru hanya menghasilkan kaum cerdik pandai yang kering dari nilai-nilai spiritual dan bebal dari aspek kecerdasan emosi dan sosialnya. Pendidikan kita hanya memberikan porsi yang tidak lebih dari dua persen untuk mengembangkan kecerdasan emosi dan spiritual, selebihnya yaitu perangkat materi belajar yang hanya menonjolkan kemampuan intelektual anak didik kita secara kognitif seperti 1+1 = 2, prosentasi suku bunga, v sama dengan jarak per second, grammar focus, penemu listrik, do re mi, dan berbagai ilmu-ilmi lain yang sifatnya materil. Sementara khazanah-khazanah ilmu yang mengajarkan nilai-nilai humanisme dan ketuhanan yang bertujuan untuk merangsang kecerdasan emosi dan spiritual hanya mendapat alokasi yang kurang proposional dan teramat menyedihkan bagi sebuah tujuan pendidikan untuk menyeimbangkan aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Inilah yang jarang diajarkan di sekolah-sekolah yang berjejalan dengan ilmu-ilmu keduniaan, sehingga jangan heran output-nya pun cenderung lebih mengejar dunia, bergaya matrealistik dan cenderung korup.

Kecerdasan emosi dan spiritual itu ternyata, menurut Ary Ginanjar Agustian, terlanjur dibelenggu oleh persepsi yang dipengaruhi oleh pandangan-pandangan negatif, pengalaman, kepentingan, dan bahkan literatur-literatur yang berbau atheis, sekuler, marxis, liberalis, kapitalis, dan entah isme-isme apalagi yang akan muncul dan kemudian merampas kedudukan Islam sebagai pegangan hidup serta memunculkan kebanggaan-kebanggaan baru terhadap isme-isme yang menyesatkan tersebut. Bila kita mau menyadari bahwa inilah sesungguhnya bagian dari keberhasilan terkecil dari cita-cita para penentang agama Allah. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah, ayat 120:

”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu, hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (Al-Baqarah: 120)

Walau hanya dengan mengikuti gaya hidup mereka dan tanpa harus masuk agama merekapun, misi mereka sebenarnya telah menapak jalan sukses. Mari kita simak apa yang menjadi misi di balik perkataan Samuel Zweimer yang merupakan ketua Asosiasi agen-agen perusahaan Yahudi pada sebuah Konferensi di Yerussalem. Dia mengatakan: ”sejak tahun 1882 politik penjajah telah menguasai kurikulum pengajaran di sekolah-sekolah dasar dengan menghapus pengajaran Al-Qur’an dan sejarah Islam. Dengan demikian ia telah menciptakan suatu generasi yang bukan muslim, bukan nasrani, dan bukan yahudi, yakni generasi yang labil, matrealistis, dan tidak percaya akidah, tidak tahu kewajibannya kepada agama, dan tidak memuliakan tanah airnya.” Terindikasi jelas bahwa misi penjajahan yang mereka lancarkan telah berlangsung lama dan akan tetap terus abadi. Walau tanpa invasi dengan senjatapun mereka dapat saja melakukan invasi pemikiran sebagai trend imperialisme gaya baru. Setelah gold, glory dan gospel, kini misi selanjutnya yang mereka gencarkan adalah genosida terhadap akidah dan pemikiran kaum muslimin.

 

Metode Serangan

Kita harus jujur mengakui bahwa umat Islam saat ini telah jauh dari semangat Al-Qur’an, yang memang acapkali diklaim oleh musuh-musuh Islam sebagai sumber kekuatan maha dahsyat kaum muslimin pada saat zaman keemasan Islam dahulu. Bahkan dalam sejarah pernah dikisahkan: Suatu ketika di Perang Salib, seorang petinggi kaum palangis (pasukan Kristen) tertangkap oleh pejuang-pejuang penegak agama Allah dan ditawan. Ada satu hal yang membuatnya berfikir. Setiap malam ia memperhatikan sang penjaga berlinangan airmata saat membaca kitab sucinya. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin seorang yang begitu perkasa di siang hari di medan tempur dapat menangis sedemikian rupa di malam hari ketika membaca Al-Qur’an. Akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa disitulah letak kekuatan kaum muslimin. Selama beberapa pertempuran fisik mereka tidak berhasil mengalahkan kaum muslimin, ternyata ada suatu sumber kakuatan mahadahsyat yang memberikan motivasi yang begitu kuat bagi pasukan muslimin. Ia lalu mengirim surat kepada pasukannya yang mengabarkan bahwa jika ingin mengalahkan kaum muslimin tidak dapat secara fisik tetapi mereka harus dijauhkan terlebih dahulu dari kitab sucinya. Dan memang benar, ternyata kemenangan mereka datang setelah umat Islam mulai jauh dari Al-Qur’an.

Kemudian berkembanglah ide untuk menghancurkan aqidah umat Islam ini sebagai strategi perang salib. Tujuh abad kemudian ide ini menjadi sebuah konsep peperangan abadi untuk menghancurleburkan akidah dan pemikiran kaum muslimin serta meluluhlantakkan eksistensi umat Islam di seluruh dunia. Konsep itu kini disebut oleh para pakar dengan istilah Ghozwul Fikri (invasi pemikiran). Dalam perjalanannya ghozwul fikri menjadi sabuah upaya sistematis dan merupakan aktivitas terorganisir pereduksian terhadap suatu kelompok yang dijalankan oleh sekelompok misionaris dengan dana yang cukup besar yang berasal dari perusahaan-perusahaan Yahudi. Perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan yang ditengarai menjadi komprador misi ini ironisnya adalah perusahaan dan lembaga yang produk dan jasanya sering dimanfaatkan oleh umat Islam, diantaranya yaitu Rockefeller, MGM, World Bank, IMF, Coca Cola, Danone dan masih banyak lagi. Tumbuh dan berkembangnya paham-paham matrealistik (duniawi), seperti sistem demokrasi yang liberalistik dan sistem ekonomi yang kapitalistik tak lepas dari peran yang dimainkan oleh para pengembang konsep laknat ini. Selain melalui penjajahan, cara lain yang mereka tempuh adalah dengan cara mengirimkan orang-orang mereka (kaum orientalis) ke negeri-negeri muslim utamanya di kawasan Timur Tengah dengan tujuan untuk menyebarkan isu pemikiran global dan mengembangkan pemikiran teologi Islam dari sudut pandang mereka.       

Scholarship Program juga tak luput dari agenda besar yang mereka galakkan, dengan cara menawarkan beasiswa melalui lembaga-lembaga filantropis atau yayasan-yayasan amal yang sengaja mereka danai untuk menjalankan misi mereka dengan target melakukan brainswashing terhadap para pelajar dan mahasiswa yang notabene beragama Islam terutama yang memiliki latar belakang pendidikan agama di pondok-pondok pesantren. Di antara bidang minat yang mereka tawarkan dalam program beasiswa adalah yang terkait dengan isu-isu global dan kontemporer seperti pluralisme agama, demokrasi, liberalisme, teologi Islam, kesetaraan gender, feminisme, ekonomi global, dan masih banyak lagi bidang minat lain termasuk ilmu linguistik, ilmu politik, seni dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Akan tetapi, sekali lagi, semua yang mereka ajarkan adalah berpijak pada konsep yang dirancang sedemikian rupa kemudian disesuaikan dengan target yang mereka ingin capai.

Pengucuran dana kepada LSM atau NGO, organisasi, dan yayasan yang bergerak di bidang budaya dan pemikiran juga adalah salah satu strategi mumpuni yang juga cukup berpengaruh untuk menggoyahkan eksistensi ummat. LSM-LSM ini seringkali menelurkan pemikiran-pemikiran yang dengan sengaja memunculkan distorsi-distorsi dalam khazanah pemikiran Islam khususnya pada tataran polemik isu-isu global yang mereka sebarkan melalui media-media informasi yang dapat mereka kendalikan. Dengan berbagai sarana teknologi informasi, bahkan dengan kekuatan politik dan finansial yang sangat memadai kini mereka telah berhasil menyuburkan pandangan-pandangan kaum atheis, sekuleris dan kaum matrealis.

Serangan dalam bentuk trend budaya juga tak luput dari usaha mereka. Ketika bangsa ini hampir kehilangan pamor dan kebanggaan terhadap budayanya sendiri, ketika itu pula derasnya arus globalisasi budaya semakin tak terbendung. Dunia barat yang notabene merajai arena teknologi informasi begitu mudahnya merontokkan tembok budaya timur. Pada akhirnya tergeruslah dikotomi budaya timur dan barat oleh proses asimilasi dan akulturasi budaya yang telah menghasilkan budaya jorok seperti free sex dan dunia gemerlap (dugem). Singkatnya perilaku demam budaya barat ini terformulasikan kedalam akronim 4S3F, yaitu sex, song, sport, smoke, fashion, fun, food.

Kini kita bisa dengan leluasa menyaksikan keberhasilan mereka menjauhkan umat Islam dari sejarahnya, dari akidahnya, dan dari pemahaman agamanya, bahkan dari kitab sucinya sendiri. Al-Qur’an, sebuah Mahakarya yang diturunkan sang khaliq kepada utusannya yang teramat mulia kini telah menjadi hiasan di rak-rak dinding rumah, menjadi pusaka yang setahun sekali dikeluarkan dari bufet-bufet mewah pada bulan ramadhan, bahkan seringkali kitab mulia itu dijadikan sebagai kamuflase simbolik untuk membahasakan kesucian dan ketulusan cinta yang disertakan dalam pemberian mahar nikah dan kemudian disimpan kembali tanpa dibaca dan diajarkan sedikitpun, apalagi diamalkan. Sebaliknya umat Islam kini semakin terpesona dengan berbagai kitab suci baru yang diamalkan oleh para penganut agama yang bernama sekulerisme yang semakin marak di zaman edan ini, yaitu kitab suci demokrasi, pluralisme, pornografi, feminisme, dan kitab suci kapitalisme.

Saksikanlah kini generasi Islam begitu kering kerontang dari ruh semangat Al-Qur’an. Ketika generasi ini menjadi pemimpin jadilah mereka pemimpin yang tidak memahami cita-cita agamanya untuk menebar rahmat bagi semesta, berkah bagi alam dan membawa maslahat bagi segenap umat manusia. Justeru mereka semakin menegaskan diri mereka sebagai generasi Islam yang menorehkan noda sejarah dalam rentang sejarah kemunduran umat Islam saat ini dengan bersandar dan bergantung pada paham-paham matrealisme, dan merengek di hadapan Allah hanya ketika musibah datang menimpa mereka. Nampak jelas ketakutan mereka ketika akan di tinggalkan oleh tuhan-tuhan mereka yang fana, yaitu harta, takhta dan wanita yang ternyata tak kuasa berbuat apapun ketika negeri ini di timpa lumpur yang melimpah ruah, wabah virus yang menyebar, air bah yang menghantam, longsor yang menerjang, musibah yang bertubi-tubi datangnya, apalagi kala sang maut datang menjemput. Selanjutnya mari kita simak siapa saja yang menjadi target invasi pemikiran yang telah dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.  

Pemimpin-pemimpin muslim laksana kerbau yang dicocor hidungnya, kehilangan semangat keberanian dan kehilangan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan dikte negara-negara yang katanya adidaya padahal sebenarnya mereka adalah pecundang. Ketidakpahaman para pemimpin muslim terhadap cita-cita kepemimpinan Islam sebagai rahmat bagi alam menjadi sebuah paradoks di tengah badai sekulerisme yang melanda negeri ini. Para elit muslim telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang khalifah dan jundi (tentara Allah) untuk menegakkan misi amar ma’ruf dan nahi munkar.   

Para pejabat-pejabat muslim lebih senang berfoya-foya dengan segala kemewahan yang mereka miliki. Dengan sombongnya mengawali perjalanan dari rumah dinas meluncur mulus ke kantor dengan mobil berpelat merah berkaca riben yang menutup rapat sosok sang pejabat yang seolah tak mau dikenali, lengkap dengan kawalan mobil foraider, petantang petenteng dengan jas belluci, HP berteknologi 3G, duduk di atas jok empuk sedan camry lengkap dengan sopir bertitel sarjana yang berijazah asli, menikmati tunjangan lauk-pauk, gaji pokok, insentif proyek, TKD, SPPD hingga uang kaget dan uang siluman lekat dengan kehidupan glamour mereka. Tak ada sedikitpun kepedulian mereka akan nasib rakyatnya yang kelaparan, mesjid disamping rumah mewahnya yang hampir roboh, kemiskinan dan pengangguran yang semakin merajalela. Kepekaan yang mereka miliki hanyalah kepekaan materi yang mereka pelajari selama kurang lebih 15 tahun lamanya dalam sistem pendidikan yang berbau sekuler. Akhirnya sudah pasti mereka menjadi pejabat matre’ yang cenderung melakukan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

Para politisi gemar memainkan kepentingan-kepentingan sesaat dibanding harus memperjuangkan ideologi dan idealisme untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat yang diwakilinya. Ideologi tak lebih dari sekedar brand image dan bahasa politis untuk menunjukkan identitas kelompok yang diwakilinya. Idealisme pun tak lebih dari sekedar lip service semata untuk mengelabui para pendukung politiknya agar dia dapat meraup suara sebanyak-banyaknya terus melanggeng mulus ke kursi empuk dan menikmati uang duduk hingga ’uang kaget’ di gedung wakil rakyat yang megah. Sehingga yang sering kita saksikan di arena-arena politik negeri ini adalah pertarungan politik yang beradu hanya pada tataran kepentingan pragmatis semata dan bukan bertarung pada tataran penjabaran dan pengamalan konsep ideologi dan idealisme. Para politisi negeri ini sedang mengalami degradasi moral dan spiritual di tengah badai krisis yang melanda negeri ini. Kemerosotan sense of social dan moral force para politisi ini menjadi bagian dari krisis keteladanan yang dihadapi bangsa ini.

Para cendekiawan muslim yang pada waktu menjadi santri dulu merasa bangga dengan paham Islamnya, kini setelah menempuh pendidikan di luar negeri justeru kembali dengan membawa kebanggaan-kebanggan baru berupa isme-isme atau paham matrealis dunia barat. Mereka menonjolkan skeptisisme mereka terhadap aksiomatika Al-qur’an. Dengan berbagai cara mereka memutarbalikkan ayat-ayat Al-Qur’an bahkan menggugat kebenaran Al-Qur’an agar dianggap hebat oleh kalangan awam. Bagi mereka agama tidak lebih merupakan racun dalam setiap usaha pencarian kebenaran. Celakanya, justeru umat Islam malah lebih mengagumi argumentasi-argumentasi mereka tentang persoalan-persoalan umat dibanding para ulama yang lebih mengedepankan ijtihad yang berpijak pada Al-Qur’an dan sunnah.

Kita pun bisa menyaksikan, telah menjadi pemandangan biasa, banyak kalangan orangtua muslim yang lebih suka menghambur-hamburkan uang yang begitu banyak hanya untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah favorit yang kering dari nilai-nilai aqidah dan miskin dengan konsep-konsep tarbiyyah (pendidikan bernuansa akidah). Orangtua akan seperti orang yang kebakaran jenggot bila anaknya tidak mampu berbahasa Inggris atau tidak tahu mengoperasikan komputer, malah akan tenang-tenang saja ketika anaknya tidak mengenal abjad-abjad Al-Qur’an.

Perempuan-perempuan muslimah lebih tertarik mengikuti gaya berpakaiannya artis-artis Hollywood yang mengobral aurat daripada harus mengenakan busana yang sesuai dengan tuntunan Islam, hanya karena alasan gengsi, belum siaplah, gerahlah, dan seribu satu alasan lainnya.

Remaja-remaja pria muslim lebih senang duduk bersantai-santai ria di atas leger-leger jalanan umum dengan gitar-gitar kesayangan mereka sambil menyanyikan tembang-tembang syahwat. Ketika azan dikumandangkan, pamer kemaksiatan malah semakin menjadi-jadi. Sambil menenggak minuman keras dan di temani sebatang rokok yang terjepit diantara jari tengah dan telunjuknya, saat itu pula mereka melancarkan aksi mengobral pandangan kepeda remaja-remaja putri yang juga dengan senang hati mempertontonkan secara gratis aurat mereka.

Anak-anak muslim lebih menyukai untuk menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku-buku komik mereka, berasyik ria dengan stik-stik playstaition dan gemar menonton film-film kartun sekuler. Sehingga tokoh-tokoh komik dan film yang lebih dulu mereka kenal dan lebih akrab dengan mereka itu lebih berarti dibanding Allah sebagai Tuhan mereka. Sementara ayah-ayah mereka terlena dengan uang-uang hasil korupsi hingga lupa mengajarkan anak-anak mereka tentang bagaimana tata cara sholat, membaca Al-Qur’an dan lupa mengajarkan tentang sejarah keindahan Islam.

Sementara ibu-ibu mereka disibukkan dengan koleksi-koleksi perhiasan dunia, tayangan-tayangan infotainment, telenovela, novel-novel syahwat, arisan gosip, hingga lupa mengajarkan puteri-puteri mereka tentang bagaimana cara mengenakan jilbab, aurat mana yang harus dilindungi, bagaimana cara menjaga kehormatan. Sehingga tidak jarang banyak di antara remaja muslim yang terjerumus ke jurang free sex.

Inilah kondisi umat Islam saat ini, sangat banyak, mengalami pertumbuhan yang sangat pesat secara kuantitas tapi tengah mengidap penyakit gigantisme. Di negeri ini saja bercokol dua ratus juta jiwa lebih penduduk muslim. Akan tetapi laksana buih di lautan, tidak berisi, terombang-ambing oleh kesenangan duniawi dan tertipu oleh kemewahan yang menghiasinya. Apa yang diwanti-wanti oleh Rasulullah dalam haditsnya kini benar-benar telah terjadi saat ini. Umat Islam terserang wabah penyakit al-wahn, yaitu penyakit cinta dunia dan takut dengan kematian. Episode dimana umat Islam mengalami kemunduran dari berbagai aspek kehidupannya. Kondisi ini berbanding sejalan dengan apa yang menjadi esensi cita-cita para misionaris dan konspirator penghancuran umat Islam untuk menjadikan generasi Islam sebagai generasi yang bukan muslim, bukan Nasrani, dan bukan Yahudi, yakni generasi yang labil, matrealistis, dan tidak percaya akidah, tidak tahu kewajibannya kepada agama, dan tidak memuliakan tanah airnya.

 

Revitalisasi Nilai-nilai Humanisme dan Otoritas Kenegaraan

Lantas, apa solusi persoalan umat Islam saat ini? Tiada lain adalah merevitalisasi kembali nilai-nilai humanisme dan ketuhanan yang terkandung dalam Al-qur’an melalui konsep pendidikan tarbiyyah (pendidikan berbasis moral dan spiritual) yang pernah diterapkan oleh Rasulullah dahulu dan telah terbukti pernah mencetak para alumni yang telah berhasil menjadi sosok pemimpin besar dunia, seperti Khalifah Abubakar Shiddiq yang terkenal dengan integritas dan kesederhanaannya, Umar bin Khottab yang terkenal dengan keberaniannya, Usman bin Affan yang terkenal dengan kedermawanannya, Ali yang terkenal dengan ketegasan dan keperkasaannya. Selain kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, pemimpin-pemimpin hasil didikan Rasulullah juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai maknawiyyah sebagai sumber kekuatan utama mereka untuk menghadapi musuh-musuh yang nyata maupun yang tak kasat mata. Olehnya itu sudah saatnya sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem politik, dan sitem hukum kita menerapkan substansi yang bersandar pada esensi nilai-nilai Al-qur’an yang telah membuktikan kehebatannya selama hampir satu milenium.

Kemudian, dari mana kita harus memulainya? Setelah dari diri kita sendiri, maka mari kita mulai menghidupkan kembali nuansa Islam itu di lingkungan keluarga kita, kemudian di lingkungan masyarakat kita. Sehingga apabila ini telah kita lakukan dengan sungguh-sungguh, maka secara politik akan mudahlah bagi umat Islam untuk memiliki otoritas dauliyyah atau pemerintahan untuk membina masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Islam yang universal. Bukan otoritas yang berorientasi pada kekuasaan, tapi berorientasi pada pelayanan. Otoritas dalam Islam bukanlah otoritas untuk menguasai, menindas, menjajah, atau untuk menyingkirkan umat atau bangsa lain, namun otoritas itu niscaya ditujukan untuk melindungi, melayani serta menebarkan rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Jika solusi persoalan umat dan bangsa ini adalah Al-Qur’an, maka alat utama untuk menjalankannya adalah negara. Penggunaan alat / negara tersebut yang sesuai dengan petunjuk yang kita yakini benar sebagai sebuah konsep petunjuk Tuhan yang tiada celah kelemahan sedikitpun akan memberikan sebuah pencerahan pemikiran bagi terciptanya kemaslahatan seluruh umat dan bangsa ini. Manusia adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan, maka konsep buatannyapun hanya akan memunculkan sikap-sikap kontra produktif seperti skeptisisme, resistensi, bahkan sampai pada penentangan terhadap konsep hidup buatan manusia tersebut. Sebaliknya kemahasempurnaan Tuhanlah yang akan menjawab segala keraguan dan kebingungan manusia dalam berbagai persoalan di setiap ranah kehidupannya. Bila mengikuti sunnatullah (ketetapan Allah) niscaya keseimbangan alam kehidupan manusia akan terus terpelihara.

Kapan Umat Islam dapat memimpin negeri ini? Wallahu ’alam bisshowab.


Photo AlbumGORONTALO KINIJun 10, '08 11:41 PM
for everyone


Photo AlbumMENGGAPAI RAHMAT-NYAMay 28, '08 12:15 AM
for everyone


MusicMay 28, '08 12:11 AM
for everyone
OST Sang Murobbi
Nasyid Izzis - Sang Murabbi   

Link: http://www.materi-tarbiyah.com?id=nanang

Bila Anda kesulitan mendapatkan materi ceramah hubungi nomor ini : 081340578900

MusicMay 20, '08 10:35 PM
for everyone
Ingat Kampung Halaman
Buayi  121. 
Nasyid Izzis - Sang Murabbi   

NoteBuku Tamu
   
nanangmasaudi wrote on Jan 20
Oke, yo. Kapan banyak waktu ya?
sumaryongareng wrote on Mar 31, '10, edited on Mar 31, '10
ass. af1 tolong se tunjuk ana buat blog ust!!!!
nanangmasaudi wrote on May 18, '09
Wa alaikum salam. Oke kami tunggu bukunya hadir di Gorontalo
muhnurhidayatonline wrote on May 12, '09
Assalamualaikum, Ustadz.
Dapatkan buku MUSLIMAH YANG TERNODA di Gramedia, Gunung Agung, atau toko buku Islam terdekat. Menceritakan tentang penderitaan jutaan Muslimah di seluruh dunia korban pelanggaran HAM oleh musuh-musuh Islam.
Syukran wa jazakallahu khairan.
nanangmasaudi wrote on Feb 27, '09
Oke, bro
Pages:12